Tahrim yaitu melarang atau mengharamkan sesuatu untuk dilakukan.
Allah berfirman dalam surat Al-An’am ayat 151
Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar". Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami (nya).
Ayat diatas menjelaskan bahwa Allah telah mengharamkan hal-hal tertentu untuk dilakukan oleh manusia. Hal-hal yang haram tersebut adalah:
1. Menyekutukan Allah
2. Berbuat durhaka kepada orang tua
3. Membunuh anak Karena takut miskin
4. Mendekati perbuatan-perbauatan keji
5. Membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah
Dari ayat diatas kita dapat memperoleh pelajaran bahwa disamping Allah membolehkan melakukan sesuatu, juga melarang sesuatu untuk dilakukan, diantaranya seperti yang tersebut diatas. Dan larangan-larangan Allah ini dimaksudkan untuk melindungi manusia dan menjauhkan dari hal-hal yang dapat membinasakan dirinya. Karena itu, supaya manusia dapat hidup selamat, haruslah mentaati larangan-larangan yang sudah ditetapkan oleh Allah. Tentu saja larangan-larangan yang sudah ditetapkan oleh Allah, Tidak sebanyak apa yang dihalalkan. Sebab larangan-larangan yang Allah tetapkan itu dimaksudkan untuk menyeimbangkan kehidupan manusia dibumi ini.
Metode tahriim ini berlaku dalam pendidikan dan pengajaran kepada Anak-anak. Orang tua tidak dapat membiarkan anak-anaknya berbuat apa saja sesuai seleranya. Sebalinya, orang tua harus mengajarkan norma-norma agama dan pergaulan yang beradab kepada putra-putrinya. Dalam mengajarkan hal-hal yang terlarang bagi putra-putrinya, yang pertama-tama harus disampaikan adalah larangan-larangan agama. Kemudian orang tua juga mengajarkan norma-norma pergaulan dimasyarakat.
Anak-anak juga diajarkan hal-hal yang tidak boleh dilakukan dalam lingkungan keluargannya, karena hal-hal tersebut akan merugikan keselamatan dirinya. Misalnya, menyalakan korek api dekat botol bensin, tangan basah memegang tombol listrik dan lain sebagainya yang membahayakan dirinya. Begitu pula halnya dengan larangan-larangan agama. Karena itu, sejak dini oran tua harus memperkenalkan kepada putra-putrinya sesuai dengan perkembangan umurnya.
Dalam kehidupan keluarga, orang tua selalu dituntut untuk memperhatikan perilaku putra-putrinya di rumah agar dapat ditegakan tatanan didalam keluarga. Adanya larangan yang diberlakukan di dalam mendukung terciptanya jiwa keshalihan anak yang menjadi perintah Islam untuk dilakukan. Jadi, hal-hal yang orang tua kemukakan sebagai larangan bagi anak-anak, harus sejalan dan searah dengan syariat islam agar cita-cita menjadikan anak-anak sebagai orang-orang shalih di kemuadian hari dapat berhasil.
Read more...
Sabtu, 08 Mei 2010
Tahriim
TAMTII
Tamtii yaitu pemberian tambahan di luar dari ketetapan yang berlaku
Allah berirman dalam surat Huud ayat 3 yang artinya
dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya. (Jika kamu, mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat.
Maksud ayat diatas adalah orang-orang yang memohon ampun dan bertaubat kepada Allah akan mendapat tambahan pahala yang besar dari Allah.
Ayat ini dapat diterapkan dalam hal mendidik anak, karena mendorong prestasi anak dalam segala aspek kehidupan adalah suatu upaya yang sangat sulit, maka diperlukan berbagai macam kiat suapaya dapat terus merangsang anak melakukan kebaikan dan prestasi. Sebab tidak semua anak memiliki kesadaran cita-cita luhur dan kemampuan menggambarkan masa depan secara jelas. Pengaruh-pengaruh buruk yang yang setiap hari ada di sekitarnya jauh lebih mudah mempengaruhi jalan pikiran dan prilaku mereka. Untuk menanggulangi hal-hal negative semacam itu, orang tua perlu menerapkan berbagai metode penddikan yang isyaratkan didalam al-Quran . metode tamtii ini adalah salah satunya untuk mengantisipasi pengaruh-pengaruh negative terhadap anak dalam kegiatan belajar dan pembinaan akhlak mereka.
Salah satu contoh dalam keseharian sebagai berikut: Orang tua menjanjikan kepada anaknya bahwa kalau ia naik kelas, maka ia akan dibelikan sepeda. Kemudian ternyata si anak naik kelas dengan rangking 1, maka sebagai penghargaan atas prestasi anak, orang tua member tambahan hadiah dengan sebuah jam tangan. Misalnya tambahan jam tangan sebagai hadiah inilah yang disebut dengan tamtii
Read more...
Rabu, 14 April 2010
METODE TAQRIIB
Tarqiib (melakukan pendekatan) disini dimaksudkan bila diantara pihak yang berkepentingan ada jarak atau bila diantara pihak yang berkepentingan ada jarak atau rintangan yang menjauhkan hubungan keduanya, sehingga diantara keduanya tidak bisa terjalin harmonisasi. Untuk itu diperlukan pendekatan sebagai upaya menghilangkan terpisahnya kedua belah pihak.
Allah berfirman QS Saba ayat 37
Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikit pun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam surga).
Dalam ayat diatas menjelaskan bahwa orang-orang musyrik dan kafir menggunakan kekayaan hidup didunia ini sebagai bukti bahwa mereka adalah orang-orang yang berhasil mendekatkan diri kepada Allah, sehingga hidup mereka sejahtera. Tolak ukur yang mereka gunakan adalah adanya kekayaan dan banyaknya anak yang mereka miliki. Setiap kali harta mereka bertambah, mereka beranggapan bahwa cara-cara yang mereka pergunakan selama ini dalam mendekatkan diri kepada Allah adalah benar, sedangkan apa yang diajarkan oleh Rasulullah yang ternyata bertentangan dengan anggapan mereka adalah keliru.
Allah Juga berfirman dalam QS Az-Zumar ayat 3 Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.
Ayat diatas menerangkan bahwa orang-orang musyrik yang menyembah patung sebenarnya tidak bermaksud menyebah patung sebenarnya tidak bermaksud menyembah patung itu sendiri, tetapi mengganggap patung-patung tersebut hanya sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Metode yang digunakan dalam kedua pandangan di atas sama, yaitu taqriib. Mereka, baik secara langsung ataupun dengan perantara, berusaha mendekati obyek begitu rupa guna mencapai tujuan mereka. Golongan pertama yang tersebut di dalam surat Saba' di atas menggunakan metode pendekatan kepada Allah melalui kekayaan yang dimiliki. Kekayaan yang mereka miliki tidak untuk didermakan atau diinfakkan kepada yang berhak, tetapi sematamata dijadikan sebagai alat kebanggaan untuk membuktikan bahwa diri mereka itu berhasil menjadi hamba yang dekat dengan Allah. Dalam berhubungan dengan Allah, orang musyrik menggunakan patung atau berhala sebagai perantara mendekatkan mereka kepada Allah. Ini juga disebut menggunakan metode taqriib. Jadi, orang-orang musyrik tidak secara langsung mau berhubungan dengan Allah, tetapi menggu¬nakan pihak ketiga, sebab mereka merasa bahwa dirinya tidak patut langsung berhubungan dengan Allah. Wahupun kedua hal di atas menuliki pola yang berbeda, tetapi yang digunakan sama.
Dari dua pola yang berbeda di atas, dapat ditarik benang mcrah bahwa inti dari pclaksanaan metode taqriib ialah melakukan pendekatan kepada pihak lain, baik secara langsung ataupun melalui pihak ketiga, dengan tujuan mendapatkan kebaikan bagi dirinya dalam berhubungan dengan pihak kedua.
Dalam kehidupan sehari-hari adakalanya terjadi perselisih-an antara seseorang dengan orang lain sehingga mengakibatkan kedua belah pihak bermusuhan atau menjauhkan diri. Untuk mengatasi hal ini, perlu dilakukan usaha pendekatan dengan jalan menyingkirkan hal-hal yang setnula meretakkan hubungan mereka.
Read more...
METODE TAFHIIM
Tafhim adalah memberikan pengertian tentang suatu masalah dengan merumuskan suatu objek secara utuh, baik benda, keadaan, persoalan atau kasus.
Allah berfirman di dalam Qs Al-Anbiya ayat 78
maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Dan Kami lah yang melakukannya.
Pada suatu hari, ada kasus yang diajukan kepada Nabi Dawud dan Sulaiman. kasus ini yang diajukan oleh pemilik domba dan pemilik kebun.Pemilik kebun mengadu bahwa tanamannya diusak oleh domba-domba milik lawannya. Pemilik kebun menuntut gaji rugi kepada pemilik domba atas tanamannya yang telah dirusak tersebut
Menurut Nabi Dawud, pemecahan masalahanya ialah pemilik kambing menyerahkan kambingnya kepada pemilik kebun sebagai ganti dari tanaman-tanaman yang telah dirusak oleh kambing tersebut.
Sedangkan Nabi sulaiman memutuskan bahwa pemilik kambing harus merehabilitasi tanaman pemilik kebun; dan selama tanaman itu belum berubah, kambingnya diserahkan kepada pemilik kebun untuk dimanfaatkan susunya dan pemilik kebun berbuah seperti semula.
Dari ayat diatas kita mendapat pelajaran tentang metode tafhim. Metode tafhim tentunya berbeda dengan metode ta’lim, tafsil maupun tabyin. Metode tafhim memberikan pengertian tentang suatu masalah dengan merumuskan suatu objek secara utuh.
Metode tafhim ini tepat untuk digunakan oleh orang tua dalam upaya mendidik anak-anaknya agar mereka dapat mengatasi permasalahan sehari-hari secara adil dan benar. Dalam kehidupan sehari-hari penggunaan metode tafhim dapat dilakukan seperti dalam dalam contoh berikut ini:
Anak datang mengadu kepada orang tua bahwa gurunya disekolah telah memarahinya dan menghukumnya dengan menyuruhnya membersihkan kelas. Ketika orang orang tua mendengarkan laporan anaknya, kemungkinan sekali menanggapinya secara emosional dan cenderung menyalahkan tindakan guru. Orang tua muslim dan mukmin tidaklah dibenarkan menangani permasalahan anaknya semacam itu diluar adab dan norma Islam. Langkah yang benar ialah orang tua meminta kepada anaknya untuk menjelaskan rangkaian kejadiannya sejauh dapat diberikan oleh anaknya. Cara ini perlu ditempuh oleh orang tua agar mendapatkan gambaran permasalahnnya dari pihak anak. Sesudah itu orang tua dapat meminta kejelasan lebih jauh dari teman-teman anaknya untuk memperoleh gambaran untuk permasalahan. Berikutnya, orang tua datang kepada guru anaknya untuk menginformasikan kasus yang dialami oleh anaknya. Dengan metode ini, orang tua dapat mendudukkan persoalan padas tempatnya dan menyelesaikan atau memutuskan perkaranya secara adil. Dari contoh diatas diperoleh gambaran bahwa untuk menyelesaikan suatu kasus, orang harus memiliki pengetahuan yang utuh tentang objek yang dipersoalkan. Tanpa memiliki pengetahuan yang utuh tentang objek yang dipersoalkan. Tanpa memiliki pengetahuan yang utuh, tentu akan terjadi kesalahan dalam penyelesaian dan ini akan menimbulkan kerugian yang tidak diinginkan. Karena itu, langkah pertama yang harus diambil oleh orang yang hendak menyelesaikan masalahnya ialah upaya untuk memahami dengan benar permasalahannya.
Metode Tafhim dapat kita pergunakan dalam menyelesaikan kasus sengketa atau perselisihan antara sesama anak kita sendiri atau dengan orang lain guna menegakan keadilan dan kebenaran. Pemecahan masalah dengan metode tafhim dapat menanamkan semangat cinta keadilan, kebenaran dan kejujuran pada diri anak kita.dengan semangat dan jiwa semacam ini, kita telah mndidik anak-anak kita menjadi orang-orang shaleh.
Read more...